SEMARANG – Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Joko Widodo yang akrab disapa Joko, mendorong percepatan pengembangan usaha pengolahan pangan berbasis sumber daya lokal. Hal ini disampaikannya dalam acara bertema “Pengembangan Usaha Pengolahan Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal” yang diselenggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang di wilayah Semarang Selatan, Selasa (20/5).
Dalam sambutannya, politisi dari Fraksi PKS sekaligus Dewan Kota Dapil 6 tersebut menegaskan pentingnya pemanfaatan kekayaan pangan lokal yang melimpah di Kota Semarang, seperti kangkung, jamur tiram, cabai rawit, hingga hasil perikanan seperti lele dan bandeng. Menurut data tahun 2023, produksi jamur tiram di Kota Semarang mencapai 473,5 kwintal, sementara produksi lele sebesar 14.074 kwintal.
“Kita memiliki potensi besar, namun belum dikelola maksimal. Inilah saatnya masyarakat mengolah potensi ini menjadi kekuatan ekonomi baru berbasis kearifan lokal,” ujar Joko.
Acara ini juga menekankan pentingnya penganekaragaman pangan yang tidak hanya sehat dan bergizi, tetapi juga terjangkau dan berbasis pada preferensi lokal. Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal, pemerintah pusat dan daerah diharapkan memberikan dukungan menyeluruh untuk pertumbuhan industri pangan lokal, khususnya sektor UMKM dan IKM.
Joko juga memaparkan strategi pengembangan usaha kuliner, mulai dari inovasi produk, peningkatan kualitas dan kemasan, pemanfaatan digital marketing, hingga pentingnya jejaring dan kolaborasi antar pelaku usaha. Ia menambahkan, tantangan seperti keterbatasan modal dan akses pasar dapat diatasi melalui program pelatihan, pendampingan UMKM, dan fasilitasi pemasaran oleh pemerintah.
“Kuliner sehat, alami, dan berkarakter lokal sedang naik daun. Kita perlu mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen yang kreatif dan inovatif,” tambahnya.
Melalui acara ini, Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang berharap dapat menginspirasi warga untuk memulai usaha pengolahan pangan dengan memanfaatkan kekayaan lokal yang tersedia, demi meningkatkan ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat.










