SEMARANG — Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang dari Fraksi PKS, Dini Inayati, menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak boleh hanya berorientasi pada pemenuhan volume untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) maupun kebutuhan PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik).
Menurutnya, kunci utama justru terletak pada perubahan perilaku masyarakat melalui kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah, khususnya antara sampah organik dan anorganik.
Persoalan sampah tidak cukup dilihat dari target kuantitas seperti pemenuhan 1.000 ton sampah per hari untuk PSEL. Politisi PKS ini menilai pendekatan tersebut berisiko mengabaikan aspek mendasar, yakni pembentukan budaya pilah sampah dari sumbernya—sebuah hal yang selama ini terus ia dorong dalam berbagai forum.
Pandangan ini sejalan dengan Guru Besar Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM, Prof. Wiratni, yang menyoroti dominasi sampah organik basah sebagai tantangan utama dalam operasional PSEL di Indonesia.
Dalam keterangannya, Prof. Wiratni menjelaskan bahwa teknologi insinerasi sangat bergantung pada tingkat kekeringan sampah. Kandungan air yang tinggi pada sampah organik membuat proses pembakaran tidak optimal, sehingga menurunkan efisiensi energi listrik yang dihasilkan.
“Semakin tinggi kadar air dalam sampah, semakin rendah energi listrik yang dihasilkan per ton,” ujar Prof. Wiratni.
Prof. Wiratni juga menegaskan bahwa apabila sampah masih bercampur dan basah, maka diperlukan proses tambahan seperti pengeringan yang akan meningkatkan biaya investasi maupun operasional PSEL.
Dini Inayati menilai pandangan tersebut semakin memperkuat urgensi pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.
“PSEL bukan berarti harus mengejar 1.000 ton sampah campuran masuk TPA setiap hari. Budaya pilah sampah harus terus digalakkan sampai masyarakat terbiasa memisahkan sampah organik dari sumbernya,” ujar Dini Minggu (03/05/2026).
Ia menjelaskan, sampah organik seharusnya ditangani terlebih dahulu di tingkat masyarakat melalui berbagai metode seperti biopori, pengomposan, maggot, eco enzyme, maupun TPS3R. Sementara itu, sampah yang dikirim ke TPA idealnya berupa sampah anorganik atau sampah kering yang memiliki nilai kalor tinggi dan lebih sesuai untuk kebutuhan PSEL.
Lebih lanjut, Dini menyebut bahwa sampah kering yang homogen dan telah terpilah tetap mampu menghasilkan energi panas optimal meskipun volumenya tidak mencapai 1.000 ton per hari. Sebaliknya, sampah campuran membutuhkan volume jauh lebih besar karena kandungan air pada sampah organik menurunkan nilai kalor pembakaran.
Senada dengan itu, Prof. Wiratni juga menegaskan bahwa sampah yang telah dipilah dan lebih kering justru menghasilkan nilai kalor lebih tinggi sehingga lebih efisien dalam menghasilkan energi listrik, meskipun dalam jumlah yang lebih sedikit. Ia juga menekankan pentingnya pengolahan berbasis komunitas seperti TPS3R sebagai garda terdepan pemilahan sampah.
Selain itu, Dini mendorong Pemerintah Kota Semarang untuk menghitung secara detail perbandingan biaya operasional PSEL dengan biaya pengangkutan sampah. Menurutnya, pemilahan yang optimal sejak dari sumber akan mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke TPA secara signifikan.
Pendekatan ini dinilai tidak hanya meningkatkan efisiensi PSEL, tetapi juga memperpanjang umur TPA Jatibarang sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat melalui pengolahan sampah berbasis komunitas.












