SEMARANG — Upaya meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga di Kota Semarang dinilai masih perlu terus ditingkatkan, terutama dalam menghadapi tantangan di era digital. Hal itu mengemuka dalam agenda pelatihan Training for Trainer (TFT) Materi Sekolah Keluarga Indonesia (SKI) yang digelar di Hotel Nusatu.
Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang dari Fraksi PKS, Siti Roika, menyatakan bahwa pemahaman mengenai kesehatan fisik, mental, hingga pengelolaan pangan aman di tingkat keluarga masih harus diperkuat.
Menurut dewan yang akrab disapa Ika ini, inisiatif pelatihan hasil kolaborasi antara Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BiPeKa) DPD PKS bersama DP3A Kota Semarang ini bertujuan mencetak fasilitator tangguh yang mampu mengedukasi masyarakat di tingkat akar rumput.
“Kesehatan mental, bangun komunikasi yang efektif dan harmonis dengan pasangannya dan anak-anak, penting dalam membangun kesehatan mental,” ujar Ika pada Rabu (8/7/2026).
Ia menjelaskan, konsep ideal dari pelatihan ini adalah memberikan edukasi komprehensif mulai dari pola asuh digital yang ramah anak, pemenuhan gizi seimbang melalui matriks pangan aman, hingga manajemen keuangan jangka panjang. Secara praktik, para kader diajarkan untuk peka terhadap ancaman pangan modern yang memicu penyakit kronis serta gangguan kecerdasan anak akibat zat aditif berlebih.
Kombinasi ketahanan ini dinilai krusial, karena rapuhnya komunikasi dan kurangnya pemahaman gizi di menit-menit pertama pengasuhan sering kali menjadi pemicu keretakan keharmonisan serta penurunan kualitas hidup sebelum intervensi eksternal dilakukan. Agenda yang mengusung tema Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga Islami ini turut menghadirkan jajaran ahli guna memberikan materi serta mendampingi pemahaman kurikulum secara langsung di lapangan.
Ika berharap kegiatan stimulan seperti ini nantinya mampu membangun budaya sadar kesehatan dan ketahanan keluarga yang lebih masif, sekaligus menjadi solusi konkret dalam menjawab tantangan pengasuhan dan ekonomi di wilayah permukiman Kota Semarang saat ini.
“Tujuan utama dari kebijakan ini adalah menciptakan lingkungan keluarga yang lebih aman, bahagia, dan tangguh, sehingga masyarakat Kota Semarang khususnya, semakin siap dan sigap terhadap perubahan zaman,” jelasnya.
Ia pun berharap program edukasi pemberdayaan masyarakat semacam ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan oleh jajaran dinas terkait, agar memberikan kepastian perlindungan serta manfaat nyata bagi peningkatan kualitas kesejahteraan hidup masyarakat Kota Semarang di masa mendatang.










